: :

Cari Blog Ini

Selasa, 17 September 2013

Bukti Kebenaran Mukjizat Al-Qur'an


Nama : Ahmad Zaky Mubarak
Kelas   : X-Q
No       : 02

Mukjizat Al-Qur’an sungguh tiada tandingannya. Kitab suci umat Islam ini adalah kitab yang diturunkan dari langit dan menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur melalui perantara malaikat Jibril.
Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Mukjizat ini menjadi tuntunan hidup umat Islam dalam menjalankan kehidupan di dunia. Segala permasalahan dan solusi hidup manusia tercantum dalam Al-Qur’an
.
Beberapa Kemukjizatan Al-Qur’an

1. Al-Qur’an Sumber Segala Hukum
Salah satu kemukjizatan Al-Qur’an adalah sumber segala hukum. Al-Qur’an memuat berbagai aturan-aturan atau perundang-undangan bagi kebahagiaan hidup manusia. Baik di dunia maupun di akhirat. Al-Qur’an adalah sumber hukum utama umat Islam. Hukum-hukum atau aturan-aturan itu mencakup segala aspek kehidupan manusia. Mulai dari dimensi ritual, sosial, pendidikan, pemerintahan, perniagaan, dan lain-lain.

2. Al-Qur’an Terjaga Keasliannya
Al-Qur’an adalah salah satu kitab suci yang terjaga keasliannya sampai hari kiamat. Ayat-ayat Al-Qur’an, sejak diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, redaksinya masih tetap sama sampai sekarang. Al-Qur’an senantiasa terjaga keasliannya karena Al-Qur’an adalah kalam Illahi. Inilah sebagai salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur’an. 

3. Al-Qur’an Memuat Ilmu Pengetahuan
Di antara bukti kemukjizatan lainnya, Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan. Al-Qur’an memuat pengetahuan di masa lampau maupun di masa yang akan datang. Para ahli, baik dari kalangan muslim maupun nonmuslim, berlomba untuk mengkaji dan menggali sumber-sumber ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an.
Al-Qur’an sudah menjelaskan tentang bagaimana proses penciptaan alam semesta dan berbagai seluk beluk kehidupan di bumi. Pengetahuan semacam ini belum terjangkau pada zaman Rasulullah. Namun, kini para ilmuwan sudah membuktikan kebenaran Al-Qur’an.
Ilmu dan teknologi dalam Al-Qur’an selangkah lebih maju dibandingkan penemuan-penemuan para ahli di zaman modern ini. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang memiliki kemukjizatan luar biasa. Al-Qur’an saja begitu luar biasa, apalagi pencipta alam semesta ini? Subhanallah.

4. Al-Qur’an Memiliki Bahasa yang Indah
Sudah tidak diragukan lagi kehebatan Al-Qur’an. Di samping sebagai sumber segala hukum dan ilmu pengetahuan, Al-Qur’an juga memiliki bahasa yang indah. Bahasa Al-Qur’an begitu puitis. Al-Qur’an bukan kitab puisi atau sastra. Namun, keindahan bahasanya tiada tara.
Masyarakat Arab pada zaman jahiliyah senang membuat syair. Syair-syair yang memiliki nilai puitis dan penuh hikmah akan dipajang di Ka’bah. Oleh karena itu, orang Arab sering berlomba membuat syair. Dengan alasan itu, Al-Qur’an diturunkan pada bangsa Arab yang gemar membuat syair. Keindahan bahasa Al-Qur’an mengalahkan semua syair-syair pada masa itu.
Selain susunan bahasanya, Al-Qur’an juga sangat indah pada saat dilantunkan. Keindahan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dapat menenangkan hati yang membaca maupun yang mendengarnya.

5. Al-Qur’an Sumber Kebaikan dan Hikmah
Orang yang belajar membaca Al-Qur’an walaupun terbata-bata akan mendapat pahala. Apalagi jika bacaannya tartil. Al-Qur’an mengandung banyak hikmah. Di samping itu, Al-Qur’an juga dapat dijadikan obat (pelipur) bagi hati yang sedang gundah gulana.

Mukjizat Al-Qur’an dan Keajaiban Penciptaan Bumi
Segala yang sudah menjadi ketetapan Allah Swt sudah tergambarkan dengan jelas di dalam Al-Qur’an. Salah satu mukjizat Al-Qur’an adalah memuat banyak hikmah di dalamnya, termasuk hikmah penciptaan yang dilakukan oleh Allah Swt. Hikmah dari keajaiban penciptaan Allah Swt ini bisa kita temukan dalam ayat suci Al-Qur’an.
Jika kita mengamati bumi serta bagaimana bumi yang besar ini diciptakan oleh Allah Swt, maka kita akan menemukan hikmah bahwa bumi adalah tanda kekuasaan Allah Swt yang paling besar. Allah Swi telah menjadikannya sebagai hamparan dan bentangan yang sangat luas bagi manusia. Allah Swt juga menjadikan bumi sebagai tempat tersebarnya rezeki dan berbagai jenis makanan yang diperuntukkan bagi semua makhluk ciptaan-Nya.
Allah Swt juga telah menjadikan jalan-jalan di dalamnya supaya manjadi sarana yang bermanfaat bagi manusia dalam menunaikan segala keperluan dalam kehidupan mereka. Allah Swt telah menancapkan gunung-gunung sebagai pasak yang kokoh yang akan menjaganya. Allah Swt menjadikan bumi sebagai tempat berkumpulnya semua makhluk ciptaan Allah Swt, baik yang masih hidup maupun yang telah mati.
Dan Allah Swt menjadikan punggung bumi sebagai tempat tinggal bagi makhluk ciptaan-Nya yang sudah mati pada perut bumi sebagai tempat peristirahatannya sementara. Seringkali Allah Swt menyebut bumi di dalam Al Qur’an serta mengajak manusia untuk merenungkan tentang kejadian bumi, sebagaimana fiman-Nya:
Allah yang telah menjadikan bagi kalian bumi yang kokoh” (QS. Ghafir: 64).
Allah Swt juga telah menghamparkan bumi untuk kalian” (QS. Al-Baqarah: 22).
Apakah mereka tidak menyaksikan bagaimana telah diciptakan oleh-Nya unta, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditancapkan, dan bagaimana bumi dihamparkan?” (QS. Al-Ghasyiah: 17-20).
“Sesungguhnya pad apenciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Jasyiah: 3).
Dan masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang bumi. Dari bumi ini Allah Swt menghendaki keluarnya berbagai jenis makanan yang berbeda-beda bentuknya, ukurannya, warnanya, serta manfaatnya. Begitu juga tumbuhnya berbagai jenis buah-buahan, tumbuhnya makanan bagi binatang ternak dan burung. Allah Swt berfirman:
Pada bumi terdapat wilayah yang saling berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanaman dan kurma yang matang maupun yang belum matang yang disirami dengan air yang satu. Kami telah melebihkannya pada sebagian di atas sebagian yang lain untuk dimakan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah Swt bagi mereka yang berpikir” (QS. Ar-Ra’du: 4).

Mukjizat Al-Qur’an dan Keajaiban Penciptaan Hati
Hati adalah pusat dari seluruh anggota tubuh manusia. Hati ibarat raja bagi seluruh anggota tubh manusia. Hati terletak di tengh-tengah dan dikelilingi anggota tubuh yang lain. Hati adalah anggota tubuh yang paling mulia, yang juga menjadi penentu bagi kehidupan manusia. Hati merupakan sumber naluri manusiawi dan juga merupakan sumber inspirasi.
Hati adalah pusat analisis, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, keberanian, ketabahan, kesabaran, dan sebagainya. Di dalam hati tersirat rasa cinta, hasrat, emosi, keikhlasan, dan perasaan yang lain. Sedangkan anggota tubuh yang lain, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, berfungsi sebagai pembantu spion hati yang berfungsi untuk menyingkap segala sesuatu yang dikehendaki oleh hati.
Begitu juga lidah, ia berfungsi sebagai penyalur bagi hati dan berfungsi untuk mengungkapkan segala sesuatu yang tersimpan di dalam hati, untuk diwujudkan dalam bentuk lisan, ungkapan, yang akhirnya terdengar oleh telinga. Oleh sebab itu, Allah Swt acapkali menggabungkan ketiga anggota badan tersebut, sebagaimana mukjizat Al-Qur’an dalam firmany-Nya:
Sesungguhnya pendengaran (telinga), penglihatan (mata), dan hati, akan dimintai pertanggung jawaban” (QS. Al-Isra’: 36).
Kami jadikan bagi mereka pendengaran (telinga), penglihatan (mata), dan hati” (QS. Al-Ahqaf: 26).
Tuli, bisu, dan buta mata hati mereka” (QS. Al-Baqarah: 18).
Kami bolak-balikkan hati mereka dan penglihatan mereka” (QS. Al-An’am: 110).
Sesungguhnya hati tidak akan berdusta terhadap apa yang dilihatnya” (QS. An-Najm: 11).
Hati tidak akan menyimpang dan tidak akan zhalim” (QS. An-Najm: 17).
Jelaslah bahwa semua anggota tubuh merupakan pelayan bagi hati. Rasulullah Saw bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging tersebut baik, maka semua anggota tubuh juga akan menjadi baik. Dan jika segumpal daging itu buruk, maka semua anggota tubuh juga akan menjadi buruk. Ingatlah, segumpal darah terdapat di dalam tubuh itu adalah hati”.
Abu Huraurah r.a berkata, “Hati ibarat raja, dan seluruh anggota tubuh yang lainnya ibarat pelayan. Jika sang raja baik, maka seluruh pelayannya akan menjadi baik pula. Tetapi jika menjadi buruk, maka seluruh pelayannya juga menjadi buruk. Karena hati adalah anggota tubuh paling panas, maka Allah Swt telah menjdaikan paru-paru sebagai ventilasi yang menjadi tempat sirkulasi udara, sehingga udara masuk sampai ke hati dan menyejukkan hati”.

Mukjizat Al-Qur’an dan Keajaiban Penciptaan Langit
Tidak ada satu pun benda langit yang tidak mengandung hikmah. Langit merupakan makhluk yang paling kuat, paling indah, dan paling komplet dibandingkan tubuh manusia. Bahkan apa saja yang ada di bumi tidak sebanding dengan apa saja yang ada di langit. Allah Swt berfirman:
Apakah kalian lebih kuat daripada langit yang Allah bangun? Allah mengangkat atapnya dan meratakannya” (QS. An-Nazi’at: 27-28).
Kami jadikan langit sebagai atap yang terjaga, dan mereka berpaling dari tanda-tanda (petunjuk-petunjuk kebesaran Allah Swt) yang ada di langit” (QS. Al-Anbiya’: 32).


KENAKALAN REMAJA DAN SOLUSI UNTUK MENGATASINYA

 "KENAKALAN REMAJA DAN SOLUSI UNTUK MENGATASINYA"


Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang.

Untuk mengetahui latar belakang perilaku menyimpang perlu membedakan adanya perilaku menyimpang yang tidak disengaja dan yang disengaja, diantaranya karena si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. Sedangkan perilaku yang menyimpang yang disengaja, bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan. Hal yang relevan untuk memahami bentuk perilaku tersebut, adalah mengapa seseorang melakukan penyimpangan, sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu, tetapi mengapa pada kebanyakan orang tidak menjadi kenyataan yang berwujud penyimpangan, sebab orang dianggap normal biasanya dapat menahan diri dari penyimpangan.

Masalah sosial perilaku menyimpang dalam “Kenakalan Remaja” bisa melalui pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual melalui pandangan sosialisasi. Berdasarkan pandangan sosialisasi, perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Perilaku disorder tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai tindakan yang tidak layak, melainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan sosialnya. Ketidak berhasilan belajar sosial atau “kesalahan” dalam berinteraksi dari transaksi sosial tersebut dapat termanifestasikan dalam beberapa hal.

Proses sosialisasi terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi sosial dengan menggunakan media atau lingkungan sosial tertentu. Oleh sebab itu, kondisi kehidupan lingkungan tersebut akan sangat mewarnai dan mempengaruhi input dan pengetahuan yang diserap. Dalam hal ini penulis menitik beratkan pada fungsi keluarga sebagai proses sosialisasi pada tahap awal.

Mengenai pendekatan sistem, yaitu perilaku individu sebagai masalah sosial yang bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai sumber masalah. Seorang dapat menjadi buruk/jelek oleh karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya pada remaja yang mengalami gejala disorganisasi keluarga, norma, dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku yang salah satunya yaitu kenakalan remaja.

Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”. Kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku / tindakan remaja yang bersifat anti sosial, melanggar norma sosial, agama, serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat. 

Singgih D. Gumarso mengatakan, dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum ; (2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa. Menurut bentuknya, Sunarwiyati S. membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan ; (1) kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin (3) kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll. Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam.

Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim, bahwa perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal dalam bukunya “ Rules of Sociological Method” dalam batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya secara tuntas, dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat.

Menurut pandangan atau teori Durkheim dapat dikatakan kenakalan remaja disebabkan oleh ketidak berfungsian salah satu organisasi sosial yang dalam masalah ini adalah organisasi keluarga. Istilah keberfungsian sosial mengacu pada cara-cara yang dipakai oleh individu akan kolektivitas seperti keluarga dalam bertingkah laku agar dapat melaksanakan tugas-tugas kehidupannya serta dapat memenuhi kebutuhannya. Juga dapat diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dan pokok bagi penampilan beberapa peranan sosial tertentu yang harus dilaksanakan oleh setiap individu sebagai konsekuensi dari keanggotaannya dalam masyarakat. Penampilan dianggap efektif diantarannya jika suatu keluarga mampu melaksanakan tugas-tugasnya. Keberfungsian sosial adalah kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas dan peranannya selama berinteraksi dalam situasi social tertentu berupa adanya rintangan dan hambatan dalam mewujudkan nilai dirinnya mencapai kebutuhan hidupnya.

Hubungan Antara Kenakalan Remaja Dengan Keberfungsian Sosial Keluarga dalam kerangka konsep telah diuraikan tentang keberfungsian sosial keluarga, diantaranya adalah kemampuan berfungsi sosial secara positif dan adaptif bagi keluarga yaitu jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya serta mampu memenuhi kebutuhannya.

Dibawah ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja yang disebabkan oleh keluarga yang diantaranya akan dibahas dibawah ini :

1. Pekerjaan Orang Tua
Hubungan antara pekerjaan orang tuanya dengan tingkat kenakalan remaja. Untuk mengetahui apakah kenakalan juga ada hubungannya dengan pekerjaan orangtuanya, artinya tingkat pemenuhan kebutuhan hidup. Karena pekerjaan orangtua dapat dijadikan ukuran kemampuan ekonomi, guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal ini perlu diketahui karena dalam keberfungsian sosial, salah satunya adalah mampu memenuhi kebutuhannya.
Bagi keluarga yang hanya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga kurang ada perhatian pada sosialisasai penanaman nilai dan norma-norma sosial kepada anak-anaknya. Akibat dari semua itu maka anak-anaknya lebih tersosisalisasi oleh kelompoknya yang kurang mengarahkan pada kehidupan yang normative.

2. Keutuhan Keluarga
Hubungan antara keutuhan keluarga dengan tingkat kenakalan remaja Secara teoritis keutuhan keluarga dapat berpengaruh terhadap kenakalan remaja. Artinya banyak terdapat anak-anak remaja yang nakal datang dari keluarga yang tidak utuh, baik dilihat dari struktur keluarga maupun dalam interaksinya di keluarga. Namun demikian ketidakutuhan sebuah keluarga bukan jaminan juga karena ada mereka yang berasal dari keluarga utuh yang melakukan kenakalan bahkan kenakalan khusus. 

3. Kehidupan Beragama Keluarga
Kehidupan beragama kelurga juga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosial keluarga. Sebab dalam konsep keberfungsian juga dilihat dari segi rokhani. Sebab keluarga yang menjalankan kewajiban agama secara baik, berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. 

4. Sikap Orang Tua Dalam Mendidik
Hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anaknya dengan tingkat kenakalan juga berpengaruh. Salah satu sebab kenakalan yang disebutkan pada kerangka konsep di atas adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. Mereka yang orang tuanya kurang memperhatikan dan tidak memperhatikan sama sekali dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak.
Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya dengan tingkat kenakalan Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Mereka yang berhubungan serasi dengan lingkungan sosialnya bagi keluarga yang kurang dan tidak serasi hubungannya dengan tetangga/ lingkungan sosialnya mempunyai kecenderungan anaknya melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat yaitu kenakalan khusus daripada keluarga yang interaksinya dengan tetangga kurang atau tidak serasi.

>Solusi Jitu<
Menurut teori Durkheim kenakalan remaja disebabkan ketidak berfungsian sebuah organisasi yang dalam hal ini adalah organisasi keluarga, untuk itu solusi yang diambil yaitu memfungsikan kembali organisasi itu atau keluarga untuk mencegah tingkat kenakalan remaja tersebut.

Berdasarkan kenyataan itu pula dapat diambil solusi untuk memperkecil tingkat kenakalan remaja ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu meningkatkan keberfungsian sosial keluarga melalui program-program kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan pembangunan social yang programnya sangat berguna bagi pengembangan masyarakat secara keseluruhan Di samping itu untuk memperkecil perilaku menyimpang remaja dengan memberikan program-program untuk mengisi waktu luang, dengan meningkatkan program di tiap karang taruna. Program ini terutama diarahkan pada peningkatan sumber daya manusianya yaitu program pelatihan yang mampu bersaing dalam pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan.
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.

Definisi kenakalan remaja menurut para ahli
* Kartono, ilmuwan sosiologi
“Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang".

* Santrock
"Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."

Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?

Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.

Jenis-jenis kenakalan remaja:
* Penyalahgunaan narkoba
* Seks bebas
* Tawuran antara pelajar


 
Penyebab terjadinya kenakalan remaja

Perilaku 'nakal' remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). 

Faktor internal:

1. Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

2. Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Faktor eksternal:

1. Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja:

1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.

2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.

4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.

5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

Red Tides dan Bahayanya

Red Tides merupakan sebuah fenomena alam air laut yang berubah warna menjadi merah ,biru ,coklat ,kuning dan hijau yang disebabkan oleh ledakan populasi fitoplankton(mikroalgae planktonic) baik yang bersifat toksik maupun non toksik.
Fitoplankton adalah organisme renik (berukuran sangat kecil), yang dikelompokan sebagai jenis tumbuhan. Hidupnya melayang-layang di dalam kolom air dan pergerakannya sangat bergantung dari arus air. Fitoplankton penyebab Red tide umumnya dari kelas dinoflagellata kelompok Pyrrophyta.
red_tides_main4642-001.jpg
Air laut berubah menjadi merah karena ganggang mikroskopik berkembang biak secara massal sehingga menutupi permukaan air laut. Pada malam hari, warna lautan itu bisa berubah menjadi biru terang. Itulah fenomena Red Tides ,sungguh indah.
Tapi jangan salah, meski terlihat sangat indah dan menawan, Red Tide adalah pembunuh massal biota laut ,merubah struktur komunitas ekosistem perairan, berdampak meracuni dan juga bisa menyebabkan kematian pada manusia. Lebih dari 100 ton ikan dan biota laut mati karena racun yang dikeluarkan fitoplankton(ganggang mikroskopik) yang menutupi lautan itu.
Faktor yang mempengaruhi fenomena Red Tides yaitu termasuk suhu permukaan laut yang hangat, salinitas rendah, kandungan gizi yang tinggi, dan laut yang tenang. Selain itu, fitoplankton tersebut dapat menyebar dengan jauh oleh angin, arus, dan badai.
Badai ini mengubah system pergerakan air laut yang mengakibatkan bertumpuknya plankton di lautan tertentu.plankton merupakan makanan ikan,tetapi kalau plankton berjumlah sangat banyak,maka otomatis banyak plankton yang tidak termakan oleh ikan dan akhirnya membusuk di dasar laut.plankton yang membusuk ini menghasilkan plankton baru bersifat toksin yang disebut dinoflagellata .pada kondisi tertentu plankton busuk tersebut meledak ke permukaan laut.plankton-plakton itu mengeluarkan toksin berwarna kuning keemasan,merah keemasan,atau hijau kekuningan. Otomatis setiap binatang laut yang memakan atau melewati Red Tides ini akan mati.
Ada sekitar 20 jenis dinoflagellata di dunia yang beracun. Salah satu jenis Dinoflagellata beracun tersebut adalah dari spesies Pyrodinium bahamense var compressum . Spesies Red tide ini memiliki ciri khas yaitu dalam tubuhnya mengandung klorofil dan menghasilkan racun ketika berfotosintesis
Tetapi ada juga Red Tides yang di sebabkan oleh ulah manusia.Limbah buangan atau zat-zat kimia beracun di perairan akan membuat plankton-plankton membusuk di dasar laut. Fenomena ini tidak sebesar seperti yang diakibatkan oleh badai. Namun tetap saja akan membuat binatang laut kehabisan makanan dan mati karena makan plankton beracun.
Selain berdampak secara ekologi, fenomena red tide mengganggu kesehatan manusia seperti sindrom keracunan akibat memakan ikan mati karena red tide atau makan kerang yang diambil dari perairan yang mengalami red tide. Selain itu, bisa terjadi iritasi kulit dan mata karena berenang atau mandi di perairan yang sedang mengalami red tide. Keracunan akibat memakan kerang-kerangan paling berbahaya karena hewan tersebut mampu mengakumulasi racun, sementara kerangnya sendiri tidak terpengaruh.
Secara ekonomi, jelas menimbulkan kerugian. Banyaknya ikan dan biota laut lain yang mati menyebabkan hasil tangkapan nelayan menurun. Konsumen atau pembeli ikan mentah maupun sea food juga bisa berkurang karena kuatir terkontaminasi racun. Dunia pariwisata pun terimbas karena limbah ikan yang tersebar di pantai disertai bau busuk menyengat. Wisatawan harus diperingatkan supaya tidak melakukan aktivitas di lokasi red tide agar terhindar dari keracunan.
Red Tide umumnya terjadi antara bulan Agustus-Februari di pantai dengan perairan hangat seperti Teluk Meksiko.
Fenomena laut ini sendiri tercatat pernah terjadi di pantai Bali,laut sekitar Sulawesi,Kalimantan Timur,Peru dan Chili.Fenomena Red Tides terjadi kira-kira lima tahun sekali sesuai dengan siklus badai yang terjadi dilaut.
lingulodinium_sd_kaischumann7247.jpg
A visible bloom, or “red tide”, of the dinoflagellate Lingulodinium polyedrum along the coast of La Jolla, San Diego County (photo courtesy of KaiSchumman).
williamwestafpgi5341.jpg
William West/AFP/Getty Images.
It was enough to frighten beach-goers at several of the largest beaches around Sydney, Australia .
sandiegomg_0671ccwebsite12067.jpg
A strong red tide along the San Diego County.This image was captured at 11pm at Torrey Pines State Beach by Photographer: David Hatfield
***************************************
redtide_italy_6041-001.jpg
     - 

TEORI HIRARKI MASLOW

TEORI HIRARKI MASLOW, TEORI TUJUAN, TEORI PENETAPAN TUJUAN


Teori Hierarki Kebutuhan Maslow / Abraham Maslow

Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.
Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow - disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

1. Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Bagi masyarakat sejahtera jenis-jenis kebutuhan ini umumnya telah terpenuhi. Ketika kebutuhan dasar ini terpuaskan, dengan segera kebutuhan-kebutuhan lain (yang lebih tinggi tingkatnya) akan muncul dan mendominasi perilaku manusia.
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.

2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.

3. Kebutuhan Sosial
Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, dan belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.

4. Kebutuhan Penghargaan
Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.

5. Kebutuhan Akutualisasi Diri (Self Actualization)
Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.

Teori Maslow tentang motivasi secara mutlak menunjukkan perwujudan diri sebagai pemenuhan (pemuasan) kebutuhan yang bercirikan pertumbuhan dan pengembangan individu. Perilaku yang ditimbulkannya dapat dimotivasikan oleh manajer dan diarahkan sebagai subjek-subjek yang berperan. Dorongan yang dirangsang ataupun tidak, harus tumbuh sebagai subjek yang memenuhi kebutuhannya masing-masing yang harus dicapainya dan sekaligus selaku subjek yang mencapai hasil untuk sasaran-sasaran organisasi.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat psikologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.
Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga.
Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.

Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :

- Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
- Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
- Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.

Maslow menggambarkan manusia yang sudah mengaktualisasikan diri sebagai orang yang sudah terpenuhi semua kebutuhannya dan melakukan apapun yang bisa mereka lakukan, dengan mengidentifikasikan 15 ciri orang yang telah mengaktualisasikan diri sebagai berikut:
1. Memiliki persepsi akurat tentang realitas.
2. Menikmati pengalaman baru.
3. Memiliki kecenderungan untuk mencapai pengalaman puncak.
4. Memiliki standar moral yang jelas.
5. Memiliki selera humor.
6. Merasa bersaudara dengan semua manusia.
7. Memiliki hubungan pertemanan yang erat.
8. demokratis dalam menerima orang lain.
9. Membutuhkan privasi.
10. Bebas dari budaya dan lingkungan.
11. Kreatif.
12. Spontan.
13. Lebih berpusat pada permasalahan, bukan pada diri sendiri.
14. Mengakui sifat dasar manusia.
15. Tidak selalu ingin menyamakan diri dengan orang lain.

Agar menjadi orang yang sudah mencapai aktualisasi diri, tidak selalu dengan menampilakan semua cirri tersebut. Dan tidak hanya orang yang sudah mengaktualisasikan diri yang menampilakan cirri-ciri tersebut. Namun, orang-orang yang menurut Maslow adalah orang yang mengaktualisasikan diri umumnya lebih sering menampilkan ciri-ciri tersebut dibandingkan kebanyakan dari kita. Sebagian besar dari lima belas ciri tersebut sudah jelas dengan sendirinya, tetapi kita mungkin bertanya-tanya tentangt pengalaman puncak (experience peak). Maslow mendefinisikan pengalaman puncak sebagai saat-saat tatkala dunia tampak utuh dan orang itu merasa selaras dengannya. Pengalaman puncak selalu melekat dalam diri kita dan mengubah persepsi kita mengenai dunia agar menjadi lebih baik lagi.
Bagi sebagian orang, pengalaman puncak diasosiasikan dengan agama, tetapi bisa juga tercetus melalui seni, musik, dan momen-momen yang memerlukan pengambilan resiko. Maslow tidak menyamakan aktualisasi diri dengan kesempurnaan. Orang-orang yang bisa mengaktualisasikan diri pada dasarnya hanya memenuhi potensi dirinya sendiri. Dengan demikian, seseorang bisa saja menjadi tolol, boros, sombong dan tidak sopan sekaligus, tetapi masih tetap bisa mengaktualisasikan dirinya. Orang yang mampu mencapai aktualisasi diri hanya kurang dari satu persen, sebab tidak banyak dari kita yang bisa memenuhi semua kebutuhan yang lebih rendah dalam hirarki.


Teori Tujuan Manusia Bermental Sepak Bola

Teori ini menyatakan bahwa mencapai tujuan adalah sebuah motivator. Hampir setiap orang menyukai kepuasan kerja karena mencapai sebuah tujuan spesifik. Saat seseorang menentukan tujuan yang jelas, kinerja biasanya meningkat sebab:
• Ia akan berorientasi pada hal hal yang diperlukan
• Ia akan berusaha keras mencapai tujuan tersebut
• Tugas tugas sebisa mungkin akan diselesaikan
• Semua jalan untuk mencapai tujuan pasti ditempuh
Bawahan harus menyetujui dan menerima tujuan itu. Bila mereka berpikir sebuah tujuan terlalu sulit atau tidak penting, ia tidak akan ter-motivasi untuk mencapainya.

Teori Penetapan Tujuan (Goal Setting Theory)

Locke mengusulkan model kognitif, yang dinamakan teori tujuan, yang mencoba menjelaskan hubungan-hubungan antara niat/intentions (tujuan-tujuan) dengan perilaku.
Teori ini secara relatif lempang dan sederhana. Aturan dasarnya ialah penetapan dari tujuan-tujuan secara sadar. Menurut Locke, tujuan-tujuan yang cukup sulit, khusus dan yang pernyataannya jelas dan dapat diterima oleh tenaga kerja, akan menghasilkan unjuk-kerja yang lebih tinggi daripada tujuan-tujuan yang taksa, tidak khusus, dan yang mudah dicapai. Teori tujuan, sebagaimana dengan teori keadilan didasarkan pada intuitif yang solid.
Penelitian-penelitian yang didasarkan pada teori ini menggambarkan kemanfaatannya bagi organisasi.
Manajemen Berdasarkan Sasaran (Management By Objectives =MBO) menggunakan teori penetapan tujuan ini. Berdasarkan tujuan-tujuan perusahaan, secara berurutan, disusun tujuan-tujuan untuk divisi, bagian sampai satuan kerja yang terkecil untuk diakhiri penetapan sasaran kerja untuk setiap karyawan dalam kurun waktu tertentu.
Penetapan tujuan juga dapat ditemukan dalam teori motivasi harapan. Individu menetapkan sasaran pribadi yang ingin dicapai. Sasaran-sasaran pribadi memiliki nilai kepentingan pribadi (valence) yang berbeda-beda.
Proses penetapan tujuan (goal setting) dapat dilakukan berdasarkan prakarsa sendiri, dapat seperti MBO, diwajibkan oleh organisasi sebagai satu kebijakan peusahaan. Bila didasarkan oleh prakarsa sendiri dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja individu bercorak proaktif dan ia akan memiliki keterikatan (commitment) besar untuk berusaha mencapai tujuan-tujuan yang telah ia tetapkan. Bila seorang tenaga kerja memiliki motivasi kerja yang lebih bercorak reaktif, pada saat ia diberi tugas untuk menetapkan sasaran-sasaran kerjanya untuk kurun waktu tertentu dapat terjadi bahwa keterikatan terhadap usaha mencapai tujuan tersebut tidak terlalu besar.


Senin, 16 September 2013

Besaran dan turunan


Nama : Ahmad Zaky Mubarak
Kelas : X-Q
No :  02
1.     Besaran Pokok

No.
Besaran pokok
Satuan SI
Singkatan
Alat ukur
Dimensi
Nama Besaran
Simbol Besaran
Nama Satuan
Simbol Satuan
1.
Panjang
Meter
m
mistar
[L]
2.
Massa
M
Kilogram
kg
neraca
[M]
3.
Waktu
T
Sekon
s
stopwatch
[T]
4.
Suhu
T
Kelvin
k
termometer
[θ]
5.
Kuat arus
I
Ampere
A
ampermeter
[I]
6.
Jumlah molekul
N
Mole
mol

[N]
7.
Intensitas cahaya
I
Candela
cd
Fotometer
[J]
 Besaran Turunan


No

Besaran Turunan
Satuan

Dalam Satuan Dasar
Dimensi
Nama Besaran

Simbol Besaran

Nama Satuan
Simbol
1
Luas
A
Meter Persegi
m2

m2

[L]2
2
Volume
V
Meter kubik
m3

m3

[L]3
3
Massa Jenis
Ρ
Kilogram/ Meter kubik
kg/m3

kg/m3

[M][L]-3
4
Berat
W
Newton
N
newton = kg.m/s2

[M][L][T]-2
5
Kecepatan
V
Meter/sekon
m/s

m/s

[L][T]-1
6
Percepatan
A
Meter/sekon kuadrat
m/s2

m/s2

[L][T]-2
7
Gaya
F
Newton
N
kg.m/s2

[M][L][T]-2
8
Muatan Listrik
Q
Coulomb
C
A.s
[I][T]
9
Potensial Listrik
V
Volt
V
Kg.m2/(A.s3)
[M][L]2[I]-1 [T]-3
10
Energi
E
Joule
J
kg.m2/s2

[M][L]2[T]-2
11
Tekanan
P
Pascal
P
N/m2

[M][L]-1[T]-2
12
Daya
P
Watt
W
kg.m2/s3

[M][L]2[T]-3
13
Resistansi
R
Ohm
Kg.m2/(A2.s3)
[M][L]2[I]-2[T]-3
14
Induktansi
L
Henry
H
Kg.m2/(A2.s2)
[M][L]2 [I]-2[T]-2
15
Frekuensi
F
Hertz
Hz
s-1
[T]
16
Momentum
P
Kilogram x meter/sekon kuadrat
M
kg.m/s
[M][L][T]-1








2.     Besaran Turunan